Minggu, 13 November 2011

Defisiensi Vitamin A

Vitamin A merupakan vitamin larut lemak yang pertama kali ditemukan. Oleh orang-orang Mesir kuno diyakini dengan mengkonsumsi hati dapat mengobati penyakit rabun senja. Pada ilmu kedokteran modern, Vitamin A ditemukan pada tahun 1913 setelah secara simultan dilakukan penelitian independen oleh Osborn dan Mendel dari Yale University dan McCollum dan Davis dari Wisconsin University, dimana vitamin A dibuat dari komponen retinoid yang merupakan hasil temuan aktifitas biologis dari retinol yang merupakan hasil isolasi retina.
Ada tiga bentuk esensial dari vitamin A, yaitu Retinol, Beta Carotene dan Carotenoid. Retinol merupakan bentuk aktif dari vitamin A yang bisa kita temukan dari sumber – sumber makanan hewani, sedangkan golongan Carotenoid dapat kita peroleh dari sumber – sumber makanan nabati.

Vitamin A sangat esensial didalam tubuh untuk penglihatan (terutama adaptasi terhadap gelap), respon imunitas, pertumbuhan tulang, reproduksi, merawat garis permukaan mata, perbaikan dan pertumbuhan sel-sel epitel baik di saluran pernafasan, urin dan pencernaan. Juga penting untuk perkembangan embrio pada masa kehamilan dan sebagai regulasi gen-gen kedewasaan dimana fungsinya sebagai pengaktif dari ekspresi gen.

Pada Negara berkembang, diperkirakan sekitar 250 juta anak-anak beresiko terhadap sindrom akibat kekurangan vitamin A. Tentu saja yang paling rentan terkena dampak defisiensi vitamin A adalah 10 juta anak-anak yang menderita malnutrisi, dan bentuk terparah defisiensi vitamin A adalah xerophthalmia. Pada mereka yang menderita xerophthalmia, 50% diantaranya berpotensi kematian jika tidak mendapat asupan vitamin A yang memadai. Defisiensi vitamin A juga bisa meningkatkan terkena komplikasi campak yang juga berujung kematian.

Sumber-sumber makanan yang mengandung Vitamin A
Lebih dari 80% vitamin A merupakan golongan Carotenoid yang bisa kita temukan pada ASI, sayuran hijau, buah-buahan berwarna kuning dan oranye, margarine dan daging (terutama hati).

Pengobatan
Asupan vitamin A pada penderita Xerophthalmia, malnutrisi berat, campak, pneumonia/diare pada anak yang terinfeksi HIV:
3 dosis vitamin A peroral pada hari ke-1, ke-2 dan minggu ke-3
Pada xerophthalmia konsultasikan pada dokter langganan anda untuk mendapatkan salep mata antibiotic yang diberikan selama 10 hari
Jika mengenai kornea, tutup mata yang terkena dan beri bantalan pada penutup.
Vitamin A bersifat teratogenik sehingga pemberian dosis tinggi pada wanita hamil harus dalam pengawasan.
Dosis pencegahan dan pengobatan:
0-6 bulan 50,000 IU
6-12 bulan 100,000 IU
> 1 tahun (termasuk dewasa) 200,000 IU
Wanita hamil 10,000 IU
Catatan: suplementasi untuk pencegahan pada anak-anak bisa diberikan 2-3 kali per tahun untuk anak usia 6 bulan sampai 5 tahun.

Sumber:
Medscape Online Medical Journal
Oxford Handbook of Tropical Medicine
semoga bermanfaat, salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Days in my Life Slideshow: M-iqbal’s trip from Jakarta, Jawa, Indonesia to Singapura was created by TripAdvisor. See another Singapura slideshow. Create a free from your travel photos.
Sweet Moment in K-106, Unj-2012 Slideshow: Kelas’s trip to Jakarta was created with TripAdvisor TripWow!

Todays News

my picture

my picture
my son

Silahkan Komentar, Usul, Saran dan Bertanya disini